Di sebuah desa, atau di gang sempit sebuah kota besar, ada seseorang yang duduk di rumah dengan dinding yang belum selesai diplester.
Tidak ada komputer.
Tidak ada printer.
Jangankan mencetak CV, untuk keluar rumah pun belum tentu ada ongkos.
Tapi malam itu, orang itu berdoa.
"Ya Allah, kalau saya dapat pekerjaan, saya akan kerja rajin. Saya akan jujur. Saya akan belajar sungguh-sungguh supaya bisa memberi yang terbaik untuk perusahaan. Gaji pertama saya akan saya pakai untuk bayar utang ibu. Untuk beli seragam adik. Untuk pulang dan bilang ke bapak bahwa sekarang saya sudah bisa bantu."
Doa seperti itu sering kali lebih jujur, lebih sungguh-sungguh, dan lebih manusiawi daripada semua motivation letter yang pernah kita baca.
Masalahnya, sistem kita tidak bisa mendengar doa.
Sistem rekrutmen konvensional masih sering mensyaratkan hal-hal yang bagi sebagian orang terlihat sederhana, padahal bagi yang lain itu adalah tembok: CV tercetak, foto formal, berkas fisik, ongkos transport datang berkali-kali, dan di beberapa tempat bahkan pungutan tidak resmi yang mengambil keuntungan dari kebutuhan orang.
Akhirnya orang itu tidak melamar.
Bukan karena ia tidak mampu bekerja. Bukan karena ia tidak mau belajar. Bukan karena ia tidak punya niat baik.
Ia tidak melamar karena sistem yang kita bangun tidak menyediakan pintu yang bisa ia masuki.
Dan perusahaan kehilangan seseorang yang mungkin justru akan menjadi salah satu karyawan paling loyal yang pernah mereka miliki.
Ini bukan soal belas kasihan. Ini soal desain sistem.
Saya tidak sedang mengajak perusahaan menjadi lembaga amal. Saya sedang mengajak kita berpikir lebih jujur: apakah proses rekrutmen yang kita bangun hari ini, tanpa sadar, memang menyaring talenta, atau justru menyingkirkan orang-orang yang paling membutuhkan kesempatan?
Rekrutmen digital yang benar bukan hanya soal efisiensi. Ia juga soal inklusivitas.
Soal membuka pintu yang selama ini hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah cukup dekat, cukup siap, dan cukup beruntung.
Kalau seseorang bisa melamar kerja dari handphone murah, dengan internet seadanya, tanpa biaya, tanpa perantara, tanpa hambatan yang tidak perlu, maka doa di rumah yang dindingnya belum selesai diplester itu punya peluang untuk bertemu dengan kesempatan yang nyata.
Bukankah memang seharusnya sistem bekerja seperti itu?
Saya percaya kita bisa membangun proses rekrutmen yang jauh lebih inklusif. Dan saya percaya, bagi siapa pun yang bekerja di Human Capital, itu adalah salah satu pekerjaan yang paling bermakna.
In a village, in a narrow alley in a big city, someone sits in a house with unplastered walls. No computer. No printer. They cannot even afford to print a CV, let alone pay for transportation.
But that night, that person prays.
"God, if I get a job, I will work diligently. I will be honest. I will learn as well as I can to give my best. I will use my first salary to pay off my mother's debt. To buy my sibling a school uniform. To go home and tell my father I can finally help."
A prayer more detailed, more honest, and more sincere than any motivation letter I have read in my career.
But our systems cannot hear prayers.
Conventional recruitment requires: a printed CV, formal photos, physical documents submitted in person, transportation money for multiple office visits, and in some cases, unofficial fees that profit from people's desperation.
So that person never applies. Not because they are incapable. Not because they are unwilling to learn. But because the system provides no door they can enter.
And the company loses someone who might have been the most loyal employee they ever had.
This is not about charity. It is about system design.
Can we not provide opportunity that inclusive, at no cost to them?
I believe we can. And I believe it is one of the most meaningful things anyone in Human Capital can do.
