Saya sudah bekerja di sembilan perusahaan. BUMN, multinasional, konglomerat regional, perusahaan lokal. Industri berbeda, skala berbeda, orang berbeda.
Tapi kalau saya ekstraksi satu pola yang paling konsisten dari semua tempat itu, jawabannya selalu sama: masalah utamanya adalah kepemimpinan.
Bukan kurangnya anggaran. Bukan kurangnya teknologi. Bukan SDM yang tidak kompeten. Hampir selalu: pemimpin yang tidak jujur, tidak berani bertanggung jawab, dan tidak takut akan konsekuensi dari keputusannya.
Pola yang berulang
Saya melihat leader yang memfabrikasi data supaya laporan ke atasannya terlihat bersih. Saya melihat leader yang, ketika proyeknya gagal, dengan sangat cepat menemukan nama-nama bawahan untuk disalahkan. Saya melihat leader yang menyembunyikan informasi penting dari timnya supaya posisinya tidak terancam.
Yang selalu dikorbankan adalah yang paling bawah. Yang tidak punya suara. Yang tidak punya akses ke ruang di mana keputusan dibuat.
Dan ketika ditanya, selalu ada argumentasi. Selalu ada penjelasan yang terdengar masuk akal. Selalu ada narasi yang rapi.
Pertanyaan yang jarang ditanyakan
Tapi ada satu pertanyaan yang hampir tidak pernah ada di ruang rapat itu: kalau besok kamu mati, kamu mau bertanggung jawab seperti apa kepada Allah atas semua keputusan ini?
Ini bukan pertanyaan religius semata. Ini adalah pertanyaan tentang akuntabilitas yang paling dalam.
Seorang pemimpin yang benar-benar sadar bahwa ia akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap keputusannya, atas setiap nama yang ia korbankan, atas setiap kebenaran yang ia sembunyikan, tidak akan berani melakukan semua itu. Karena baginya, pekerjaan bukan hanya transaksi antara ia dan perusahaan. Pekerjaan adalah ibadah. Dan merusak amanah kepemimpinan sama saja dengan merusak ibadah itu sendiri.
Sajadah panjang di dunia
Saya sering membayangkan pekerjaan seperti sajadah yang panjang. Kita berdiri di ujungnya setiap pagi ketika mulai bekerja. Dan setiap keputusan yang kita buat, setiap perlakuan kepada orang yang kita pimpin, setiap kejujuran yang kita jaga atau kita korbankan, itu semua adalah gerakan di atas sajadah itu.
Pemimpin yang bekerja dengan kesadaran ini tidak membutuhkan sistem pengawasan yang ketat. Ia mengawasi dirinya sendiri, karena ia tahu ada yang Maha Melihat.
Itu mengapa saya membangun sistem HC yang transparan, bukan hanya untuk efisiensi. Tapi karena saya percaya sistem yang transparan adalah ekspresi dari nilai ini: bahwa tidak ada yang boleh tersembunyi, tidak ada yang boleh dimanipulasi, karena pada akhirnya semua akan dipertanggungjawabkan.
Dan seorang pemimpin yang sadar akan hal itu, tidak akan pernah dengan mudah mencari kambing hitam.
I have worked at nine companies. State-owned, multinational, regional conglomerate, local company. Different industries, different scales, different people.
But if I extract the one most consistent pattern across all of them, the answer is always the same: the core problem is leadership.
Not budget shortages. Not lack of technology. Not incompetent talent. Almost always: leaders who are dishonest, unwilling to be accountable, and unafraid of the consequences of their decisions.
The recurring pattern
I have seen leaders fabricate data so their reports look clean upward. I have seen leaders who, when projects fail, very quickly find subordinate names to blame. I have seen leaders hide critical information from their teams to protect their position.
The ones who always get sacrificed are those at the bottom. Those without a voice. Those without access to the rooms where decisions are made.
The question rarely asked
But there is one question almost never present in those boardrooms: if you died tomorrow, how would you account to God for all these decisions?
A leader who genuinely understands they will be held accountable for every decision, for every name they sacrifice, for every truth they hide, will not dare do any of it. Because for them, work is not just a transaction between themselves and the company. Work is worship. And corrupting the trust of leadership is the same as corrupting that worship.
A long prayer rug in this world
I often imagine work as a long prayer rug. We stand at one end every morning when we begin. And every decision we make, every way we treat the people we lead, every honesty we keep or sacrifice, all of it is a movement on that rug.
A leader who works with this awareness does not need a tight surveillance system. They police themselves, because they know there is One who sees all.
