Setiap kali ada berita tentang pungutan tidak resmi dalam rekrutmen, respons paling umum adalah: "Tangkap oknumnya. Pecat yang bersalah."
Ini bukan respons yang salah. Tapi ini respons yang tidak cukup. Karena selama sistemnya tidak berubah, celah yang sama akan terus dimanfaatkan.
Pungutan ilegal tumbuh di kegelapan informasi.
Pikirkan bagaimana rekrutmen konvensional bekerja. Lowongan beredar melalui jaringan informal. Tidak ada yang tahu berapa banyak pelamar lain. Tidak ada kriteria seleksi yang transparan. Tidak ada audit trail siapa merekomendasikan siapa. Tidak ada komunikasi standar kepada kandidat yang tidak lolos.
Dalam kegelapan seperti ini, seseorang yang "tahu orang dalam" memiliki kekuasaan. Dan kekuasaan tanpa akuntabilitas selalu menciptakan ruang untuk transaksi yang tidak seharusnya terjadi.
Apa yang berubah ketika sistemnya digital dan transparan?
Ketika semua lamaran masuk melalui platform yang sama, dengan scoring yang tercatat, dengan audit trail siapa membuat keputusan apa. Ruang untuk transaksi tersembunyi menjadi sangat kecil. Bukan karena sistemnya sempurna, tapi karena biaya dan risiko penyalahgunaan menjadi jauh lebih tinggi.
Transparansi adalah bentuk keadilan.
Di balik setiap kasus pungutan tidak resmi, ada seseorang yang kehilangan kesempatan bukan karena kemampuannya kurang. Tapi karena ia tidak punya uang untuk membayar, atau tidak punya koneksi yang tepat. Itu adalah ketidakadilan sistemik. Dan ketidakadilan sistemik hanya bisa diperbaiki dengan perubahan sistemik.
Digitalisasi rekrutmen bukan tentang efisiensi HR. Ini tentang membangun dunia kerja yang lebih adil.
Every time news breaks about illegal recruitment fees, the most common response is: "Arrest the bad actor. Fire the guilty one."
This is not wrong. But it is not enough. Because as long as the system does not change, new actors will always fill the same space.
Illegal fees thrive in information darkness.
Conventional recruitment: vacancies through informal networks, no public criteria, no audit trail of recommendations, no communication to rejected candidates. In this darkness, someone who "knows someone inside" holds power. And power without accountability creates space for transactions that should not happen.
Transparency is a form of justice.
Behind every illegal fee case, someone lost an opportunity not because of insufficient ability. But because they lacked money or connections. That is systemic injustice. And systemic injustice requires systemic change.
Recruitment digitalization is not about HR efficiency. It is about building a fairer world of work.
