Koperasi & Wellbeing Cooperative & Wellbeing · 11 Januari 2026 January 11, 2026 · 3 menit baca 3 min read

Roomboy itu tidak berhutang untuk makan. Ia berhutang supaya anaknya tidak memalukan teman-temannya The room attendant was not in debt for food. He was in debt so his child would not be embarrassed in front of friends

2019. Saya menjabat sebagai HR Director di dua perusahaan sekaligus. Suatu hari saya menerima telepon dari penagih hutang. Mereka mencari karyawan... 2019. I was serving as HR Director at two companies simultaneously. One day I received a call from a debt collector. They were looking for my...

R
Rangga Irawan Prasetyo
Digital HR Architect · Founder Nusva Group Digital HR Architect · Founder of Nusva Group

2019. Saya menjabat sebagai HR Director di dua perusahaan sekaligus. Suatu hari saya menerima telepon dari penagih hutang. Mereka mencari karyawan saya. Menelepon ke kantor. Mengirim WhatsApp ke rekan-rekan kerja karyawan itu.

Saya turun langsung. Membantu melunasi. Kemudian saya temukan lebih banyak lagi: beberapa karyawan terjerat pinjaman predatory, beberapa lagi terhimpit kartu kredit yang bunganya sudah menumpuk.

Yang saya lihat bukan hanya angka hutang. Saya melihat orang-orang yang datang ke kantor dengan kepala tertunduk. Murung. Menghindari kontak mata. Malu untuk berinteraksi karena mereka tahu penagih sudah menelepon kantor.

Itu bukan masalah keuangan semata. Itu masalah martabat.

Saya melakukan social experiment

Ketika saya mulai bertanya kepada para karyawan ini, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga.

Mereka tidak berhutang untuk makan. Bukan untuk kebutuhan dasar. Hampir semuanya untuk sesuatu yang oleh banyak orang akan dianggap konsumtif: HP, laptop, barang elektronik.

Reaksi pertama yang mudah adalah menghakimi. Tapi saya memilih untuk bertanya lebih dalam.

Seorang roomboy bercerita. Ia membeli laptop dengan pinjaman predatory. Saya tanya: untuk apa? Ia bukan programmer, bukan desainer. Pekerjaannya tidak membutuhkan laptop.

Ia menjawab dengan tenang: "Pak, anak saya SMA. Setiap ada tugas presentasi dari sekolah, dia harus numpang ke tetangga pinjam laptop. Saya tidak bisa terus-terusan begitu. Saya ingin anak saya bisa kerja di rumahnya sendiri, tidak usah repotkan orang lain."

Seorang public area attendant membeli HP. Bukan untuk dirinya. Untuk anaknya. Ia bilang: "Anak saya dua, HPnya satu. Setiap hari kerjanya berantem rebutan. Ibunya pusing. Saya ikut kena marah. Kalau HP-nya ada dua, rumah saya tenang."

Kasih sayang seorang ayah tidak bisa ditahan

Waktu mendengar itu, saya diam lama.

Ini bukan tentang orang yang tidak bisa mengelola keuangan. Ini tentang seorang ayah yang penghasilannya tidak cukup untuk membantu keluarganya dengan cara yang tidak menambah beban. Ia tidak bisa menabung cukup cepat. Satu-satunya jalan yang tersedia adalah pinjaman predatory yang bunganya mencekik.

Dan ketika pinjaman itu menagih, ia datang ke kantor bukan hanya sebagai orang yang berhutang. Ia datang sebagai seseorang yang martabatnya dirobek di depan rekan-rekan kerjanya.

Dari situlah ide koperasi syariah ini lahir bukan sebagai program HR, melainkan sebagai respon manusiawi terhadap masalah yang saya lihat dengan mata kepala sendiri.

Akad murabahah bukan hanya soal halal-haram

Saya memulai koperasi syariah di perusahaan itu. Bukan hanya supaya transaksinya halal, tapi karena akad syariah memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh pinjaman predatory: keberkahan.

Dalam murabahah, harga jelas dari awal. Tidak ada bunga berbunga. Tidak ada ancaman. Tidak ada telepon ke kantor. Karyawan bisa mendapatkan laptop untuk anaknya, membeli HP untuk ketenangan rumah tangganya, dengan cara yang tidak merobek martabatnya.

Setahun kemudian, koperasi itu tumbuh organik. Kami membuka minimarket di kantor untuk karyawan dan tamu. SHU dibagi ke anggota. Ada efek berganda yang saya tidak prediksi sebelumnya: keluarga karyawan yang ikut sejahtera.

Satu social experiment itu mengajarkan saya satu hal yang tidak ada di buku teks HC manapun: karyawan yang sejahtera secara finansial bukan hanya lebih produktif. Mereka lebih hadir. Lebih fokus. Lebih loyal. Bukan karena mereka takut kehilangan pekerjaan, tapi karena mereka merasa perusahaannya peduli.

Itulah mengapa saya membangun NusvaFinansial

Bukan sebagai produk fintech. Bukan sebagai fitur tambahan dari HRMS. Tapi sebagai jawaban atas pertanyaan yang pertama kali saya dengar dari seorang roomboy di 2019.

Saya percaya bahwa salah satu bentuk kesyukuran kita adalah menggunakan ilmu, daya, dan posisi yang kita punya untuk kebaikan orang banyak. Menegakkan nilai-nilai yang benar. Berdakwah melalui muamalah.

Setiap akad yang jujur adalah dakwah. Setiap SHU yang dibagi adil adalah dakwah. Setiap karyawan yang terbebas dari pinjaman predatory dengan cara yang berkah adalah dakwah.

Dan yang paling saya syukuri: saya tidak hanya mengajarkan ini. Saya membangun sistemnya.

2019. I was serving as HR Director at two companies simultaneously. One day I received a call from a debt collector. They were looking for my employee. Calling the office. Sending WhatsApp messages to the employee's colleagues.

I stepped in directly. Helped settle the debt. Then I found more: several employees trapped in predatory loans, several others drowning in credit card interest that had compounded.

What I saw was not just numbers on a balance sheet. I saw people coming to work with heads down. Withdrawn. Avoiding eye contact. Ashamed to interact because they knew the collectors had called the office.

That was not a financial problem alone. That was a dignity problem.

A social experiment

When I began asking these employees questions, I found something I did not expect. They were not in debt for food. Not for basic needs. Almost all of them: for something many would call unnecessary. A phone. A laptop.

The easy reaction is to judge. I chose to ask deeper.

A room attendant told me his story. He had borrowed to buy a laptop. I asked why. His work had nothing to do with laptops.

He answered calmly: "My child is in high school. Every time there is a presentation assignment, she has to go to the neighbor's house to borrow their laptop. I cannot keep doing that to them. I want my child to be able to work at her own home."

A public area attendant bought a phone. Not for himself. For his children. He said: "I have two kids, one phone. Every day they fight over it. My wife gets a headache. I get the anger. If there are two phones, my house is peaceful."

A father's love cannot be restrained

When I heard that, I was silent for a long time. This was not about someone who cannot manage money. This was about a father whose income was not enough to answer his family's needs with dignity. He could not save fast enough. The only accessible path was a predatory loan with crushing interest.

That is why the sharia cooperative was born, not as an HR program, but as a human response to something I witnessed with my own eyes.

That is why I built NusvaFinansial

Not as a fintech product. Not as an add-on feature to HRMS. But as an answer to the question I first heard from a room attendant in 2019.

I believe one of the deepest forms of gratitude is to use whatever knowledge, capacity, and position we have for the good of others. To uphold right values. To do dawah through the way we conduct business.

Every honest contract is dawah. Every fairly distributed profit share is dawah. Every employee freed from predatory debt through a blessed path is dawah.

And what I am most grateful for: I am not just teaching this. I am building the system for it.

Bagikan Share
R
Tentang Penulis About the Author
Rangga Irawan Prasetyo
Digital HR Architect dengan 15 tahun pengalaman dari dalam organisasi. Membangun sistem, menulis pemikiran, dan berbicara tentang bagaimana organisasi mengambil keputusan Human Capital dengan lebih jelas, lebih cepat, dan lebih manusiawi. Digital HR Architect with 15 years of inside-organization experience. Builds systems, writes ideas, and speaks about how organizations can make Human Capital decisions that are clearer, faster, and more humane.
Profil Lengkap Full Profile
Ingin mendiskusikan ini lebih lanjut? Want to discuss this further?
Hubungi Saya Get in Touch