Sembilan perusahaan. Dari BUMN sampai multinasional sampai konglomerat lokal. Kalau saya ekstrasi semua masalah yang pernah saya lihat di setiap tempat itu, akarnya selalu bisa ditarik ke satu titik: pemimpin yang tidak jujur.
Bukan tidak kompeten. Tidak jujur.
Pemimpin yang memfabrikasi data untuk melindungi dirinya. Yang menyalahkan timnya ketika sesuatu salah. Yang takut kehilangan posisi sehingga menyembunyikan kebenaran dari atasannya. Yang berbicara satu hal di rapat, berbeda hal di koridor. Dan yang paling banyak menderita dari semua ini? Selalu orang yang paling bawah, yang paling tidak punya suara.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri.
Mengapa ini terjadi terus-menerus? Di perusahaan yang berbeda, industri yang berbeda, skala yang berbeda?
Jawabannya bukan karena orang-orang itu jahat. Jawabannya karena mereka lupa, atau tidak pernah sadar, bahwa ada pertanggungjawaban di atas jabatan mereka.
Kalau seseorang benar-benar percaya bahwa bekerja adalah ibadah, seperti sedang sholat di atas sajadah, dia tidak akan berani berbuat curang. Manakah orang yang berani memalsukan gerakan sholat di depan Allah? Manakah orang yang berani berbisik bohong saat sedang dalam rukuk? Tidak ada. Karena dia tahu dia sedang dilihat.
Tapi di kantor, banyak yang merasa tidak sedang dilihat. Dan dari sana semua kerusakan bermula.
Maqashid syariah bukan label. Ini blueprint.
Maqashid syariah adalah tujuan-tujuan inti syariat Islam: menjaga jiwa, akal, keturunan, harta, dan agama. Lima hal ini adalah standar yang seharusnya digunakan untuk mengevaluasi setiap keputusan, bukan hanya keputusan personal, tapi keputusan bisnis.
Coba terapkan framework ini ke keputusan rekrutmen biasa. Kalau ada pungutan tidak resmi dalam proses rekrutmen, apakah itu menjaga atau merusak harta kandidat? Apakah itu menjaga atau merusak jiwa seseorang yang kehilangan kesempatan bukan karena kemampuannya kurang, tapi karena tidak punya uang untuk membayar?
Kalau ada pemimpin yang menyembunyikan kebenaran dari atasannya, apakah itu menjaga atau merusak akal organisasi yang seharusnya membuat keputusan berdasarkan data yang akurat?
Banyak yang tidak lolos.
2019: dari pengamat menjadi pembangun.
Titik balik saya adalah ketika saya sebagai HR Director di sebuah Perusahaan Operator Hotel Management, mulai melihat langsung bagaimana karyawan terjerat pinjaman predatory. Telepon penagih masuk ke kantor. Karyawan yang biasanya ceria mulai murung, malu, tidak bisa fokus.
Saya mulai membantu dari uang pribadi. Tapi kemudian saya sadar: ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan kedermawanan individu. Ini masalah tidak adanya jalan lain.
Lalu saya mulai menyelidiki: untuk apa mereka berutang? Jawaban yang saya temukan mengubah cara saya melihat segalanya. Seorang Roomboy meminjam untuk beli laptop, bukan untuk dirinya, tapi supaya anaknya tidak harus menumpang ke tetangga untuk mengerjakan tugas presentasi sekolah. Seorang Public Area Attendant meminjam untuk beli HP kedua, karena dua anaknya berbagi satu HP dan setiap hari berantem sampai ibunya stres, dan suaminya ikut kena marah.
Kasih sayang seorang ayah yang tidak bisa ditahan. Yang mencari jalan apapun yang ada.
Dan jalan yang tersedia adalah pinjaman predatory. Karena tidak ada yang membangun alternatif yang layak.
Itulah mengapa koperasi syariah bukan fitur. Ini kewajiban moral.
Akad murabahah itu bukan hanya transaksi jual beli yang Islami. Itu adalah cara memastikan bahwa ketika seorang ayah ingin membeli laptop untuk anaknya, dia bisa melakukannya dengan cara yang berkah. Yang tidak menambah beban. Yang tidak mengambil keuntungan dari kebutuhannya.
SHU yang dikembalikan ke anggota bukan hanya distribusi profit yang adil. Itu adalah pengakuan bahwa karyawan bukan hanya sumber daya yang digunakan, tapi mitra yang berhak atas pertumbuhan yang mereka ikut ciptakan.
Sajadah panjang di dunia.
Inilah yang saya maksud ketika saya katakan bahwa setiap sistem yang saya bangun adalah sajadah panjang di dunia. Saya tidak membangun Nusva untuk exit. Saya membangun Nusva karena saya percaya bahwa cara kita bertransaksi, memimpin, dan memperlakukan orang-orang di bawah tanggung jawab kita adalah bagian dari ibadah kita.
Ketika sebuah sistem membantu seorang karyawan keluar dari jerat hutang dengan cara yang berkah, itu adalah dakwah melalui muamalah. Ketika sebuah dashboard membantu pemimpin membuat keputusan yang lebih jujur tentang timnya, itu adalah cara mendorong kepemimpinan yang bertanggung jawab kepada Allah.
Saya tidak tahu apakah semua ini sudah cukup. Tapi saya tahu bahwa ketika saya membangun ini, saya sedang berdoa. Dan ujungnya hanya satu: ridho Allah.
Nine companies. From state-owned to multinational to local conglomerate. If I extract all the problems I have ever seen across every one of those places, the root always traces to one point: leaders who are not honest.
Not incompetent. Dishonest.
Leaders who fabricate data to protect themselves. Who blame their teams when something goes wrong. Who fear losing their position so they hide the truth from above. And who always suffers most from all of this? Always the people at the bottom. The ones with no voice.
Then I asked myself.
Why does this keep happening? Across different companies, different industries, different scales?
The answer is not that these people are evil. The answer is that they forgot, or never realized, that there is accountability above their title.
If someone truly believes that work is an act of worship, like praying on a prayer mat, they will not dare to deceive. Who would dare to fake the movements of prayer in front of Allah? No one. Because they know they are being watched.
But in the office, many feel unseen. And from that, all the damage begins.
Maqashid syariah is not a label. It is a blueprint.
Maqashid syariah are the core objectives of Islamic law: protecting life, intellect, lineage, wealth, and faith. These five are the standard that should be used to evaluate every decision, not just personal decisions, but business decisions.
Apply this framework to an ordinary recruitment decision. If there is an unofficial fee in the recruitment process, does that protect or harm the candidate's wealth? Does that protect or harm the life of someone who loses an opportunity not because of insufficient ability, but because they had no money to pay?
2019: from observer to builder.
My turning point was 2019. As HR Director at a Hotel Management Company, I began seeing directly how employees were trapped by predatory lending. The debt collector called the office. Employees who were usually cheerful became withdrawn, ashamed, unable to focus.
I started helping from my own pocket. But then I realized: this is not a problem that can be solved by individual generosity. This is a problem of the absence of a dignified system.
A Roomboy borrowed to buy a laptop, not for himself, but so his child would not have to borrow from a neighbor for a school presentation. A Public Area Attendant borrowed to buy a second phone, because two children sharing one phone fought daily until their mother was stressed, and her husband caught the anger too. A father's love that cannot be held back. Finding whatever path exists.
And the path that existed was predatory lending. Because no one had built a worthy alternative.
A long prayer mat in this world.
This is what I mean when I say every system I build is a long prayer mat in this world. I did not build Nusva for an exit. I built Nusva because I believe that how we transact, lead, and treat the people under our responsibility is part of our worship.
When a system helps an employee escape debt through a blessed path, that is calling through commerce. When a dashboard helps a leader make more honest decisions about their team, that is a way of encouraging leadership that is accountable to Allah.
I do not know if all of this is enough. But I know that when I build this, I am praying. And the end goal is one: the pleasure of Allah.
